Posted by: Pesona Jawa | 13/03/2011

Jalan-jalan Ke Pangalengan, Bandung

Senin, tanggal 7 Maret kemarin Pesona Jawa melakukan perjalanan ke Pengalengan, Bandung dalam rangka survey wisata dengan tujuan PLTA Lamajan. Saya (Doreng) bersama Marsad berangkat dari Kampung Rambutan sekitar pukul 8.30 menumpang bus AC jurusan Bandung. Perjalanan bus cukup lancar melewati Tol Cipularang dan tiba di Terminal Leuwipanjang sekitar tengah hari. Hari itu matahari terasa cukup menyengat. Dari terminal kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang bus ¾ jurusan Pangalengan. Perjalanan cukup lambat karena bus masih mencari penumpang dan memutar dulu di Jl. Moh. Toha. Sampai di pasar daerah Banjaran buspun masih ngetem lagi cukup lama. Melewati Banjaran perjalanan baru mulai lancar dan tak lama kemudian jalan mulai menanjak. Perbukitan mulai terlihat dan suhu terasa lebih sejuk.

Beberapa kilometer sebelum PLTA Lamajan kami melewati PLTA Cikalong di sebelah kanan jalan. Dan mendekati lokasi PLTA Lamajan kami bisa melihat pipa pesat (penstock) berwarna kuning di atas perbukitan di depan kami. Warna kuning pipa pesat tersebut terlihat unik dan kontras dengan perbukitan di sekitarnya yang kehijauan. Sayang kami tidak berhasil mengambil foto pemandangan tersebut karena jalanan yang berkelok-kelok dan tebing yang menghalangi kami.

Tak lama kemudian akhirnya sampailah kami di PLTA Lamajan sekitar jam dua siang. Sebelum masuk ke PLTA kami memutuskan untuk makan siang dulu di warung terdekat sambil meluruskan kaki setelah beberapa jam duduk di kendaraan. Setelah makan siang kami masuk ke PLTA Lamajan. Cuaca terasa sejuk dan langit mulai mendung, tampaknya tak lama lagi akan hujan. Setelah melapor di pos keamanan dan mengisi buku tamu kami diperbolehkan melihat-lihat ke dalam. Pemandangan dari PLTA yang terletak di bukit ini cukup indah dan kami bisa melihat kota Bandung di kejauhan. Kami sempat mengambil beberapa foto pemandangan kota Bandung dari situ.

Rasa penasaran membuat kami segera menghampiri lori pengangkut petugas untuk menuju ke turbin. Ternyata pemandangan yang terlihat lebih menakjubkan dari foto-foto yang sebelumnya kami lihat. Lori yang ditarik dengan menggunakan sling baja tersebut harus melewati rel menuruni lereng dengan kemiringan 70-80 derajat. Cukup menciutkan nyali, terutama bagi saya yang mampunyai  masalah dengan ketinggian. Di samping kanan rel lori terdapat tangga turun untuk ukuran satu orang yang tidak kalah curam. Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya memutuskan untuk memilih naik lori karena mulai turun rintik hujan, sedangkan tangganya terlihat ditumbuhi lumut. Pukul 3.00 tepat kami turun menggunakan lori bersama 3 orang petugas yang akan menuju ke turbin di bawah. Lori yang menurut perkiraan saya berkapasitas 10 orang tersebut berjalan dengan perlahan. Sebelumnya saya dan Marsad memutuskan untuk naik menggunakan tangga agar lebih santai, karena lori tersebut akan langsung naik lagi. Di sisi lain kamipun ingin mencoba menghitung anak tangga yang katanya berjumlah 400 undakan dan juga sekalian mengetes kekuatan kaki kami. Sayangnya hujan turun semakin lebat sehingga kami tidak bisa berlama-lama dan langsung naik lori lagi. Lori yang awalnya hanya dinaiki 5 orang sekarang harus memuat 15 orang dalam perjalanan ke atas. Bila setiap orang dianggap rata-rata berbobot 60kg, berarti lori yang tidak terlalu besar tersebut mengangkut beban seberat 900kg, hampir satu ton (bobot saya saja sebenarnya 70kg). Jantung saya berdegup kencang, untungnya pemandangan dari tempat itu cukup memanjakan mata sehingga perhatian saya teralihkan. Jarak yang ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 250m tetapi lori tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Dan akhirnya sampailah kami semua kembali ke atas.

Setelah hujan reda kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju perkebunan teh PTPN VIII Malabar. Untuk sampai ke sana kami naik bus ¾ ke Pangalengan dan melanjutkan dengan angkot tujuan Pintu. Perjalanan ke perkebunan teh tersebut memakan waktu tidak sampai 1 jam. Kami tiba di Pintu sekitar jam 5.00 sore dan langsung menuju gerbang PTPN VIII tidak jauh dari situ. Kami berjalan kaki menyusuri jalan aspal di dalam perkebunan teh tersebut menuju mausoleum/makam Bosscha yang terkenal itu. Cuaca terasa mulai menggigit, apalagi kami berjalan diiringi rintik hujan. Sayangnya pemandangan yang indah di lembah tersebut tidak bisa kami rekam karena cuaca mendung menjelang maghrib dan kami hanya membawa kamera pocket.

Sekitar 15 menit kemudian sampailah kami di makam Bosscha. Pagar makam tertutup karena kami tiba sudah sangat sore. Di depan makam terdapat tugu batu yang mengingatkan kita akan kontribusi yang diberikan Bosscha. Bentuk makamnya sendiri sepintas mengingatkan kita pada makam istri Raffles di Kebun Raya Bogor. Karena hari mulai gelap kami harus segera memutuskan di mana akan menginap. Sambil berfikir kami melanjutkan berjalan kaki ke dalam wilayah perkebunan. Sekitar 15 menit berjalan kaki kami melewati bekas rumah peristirahatan Bosscha yang kondisinya sangat terawat. Di sekitarnya dibangun beberapa cottage untuk disewakan bagi pengunjung. Berjalan sedikit dari situ ternyata kami sudah memasuki wilayah perumahan karyawan PTPN VIII.

Karena kami tiba tepat saat adzan maghrib akhirnya kami memutuskan berhenti dan beristirahat di masjid perumahan tersebut. Setelah bersosialisasi dengan penduduk setempat kamipun kemudian memutuskan untuk bermalam di masjid tersebut. Dari hasil ngobrol-ngobrol tersebut kami ditunjukkan jalan menuju Gunung Nini, tempat Bosscha dahulu sering memantau perkebunan teh tersebut dan juga melakukan observasi astronomi sebelum membangun teropong bintang di Lembang. Setelah malam semakin larut kamipun akhirnya tidur menggunakan sleeping bag yang cukup menolong dari terpaan hawa yang sangat dingin.

Esok paginya setelah subuh kami langsung menuju Gunung Nini yang sebetulnya hanyalah sebuah bukit di tengah perkebunan teh. Jalan tanah menuju Gunung Nini ternyata cukup lebar dan biasa dilalui pickup yang mengangkut para pemetik teh. Jalan tersebut cukup landai tetapi agak jauh berputar-putar. Untuk menghemat waktu kamipun akhirnya mengambil jalan pintas yang agak curam, kelihatannya merupakan jalur air. Setelah lelah menanjak sampailah kami di puncak Gunung Nini. Di atas bukit ini terdapat shelter yang cukup besar dan di dekatnya terlihat sebuah menara pemancar. Lagi-lagi kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Dari sana kami bisa melihat kota Bandung, danau Cileunca dan asap uap air panas instalasi hydropower di wilayah itu. Kabut tebal yang meliputi perbukitan itu semakin menambah indahnya suasana. Cuaca yang masih menggigit ditambah basahnya badan kami dari embun yang menempel di daun-daun teh membuat tubuh agak menggigil. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya tempat itu di musim kemarau. Belum puas menikmati alam dan pemandangan di tempat itu kamipun akhirnya harus kembali ke Jakarta.

Jam 9.00 mulai turun dari atas bukit. Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan mampir sebentar ke rumah Bosscha. Rumah tersebut terlihat asri dan di dalamnya masih terdapat beberapa perabot peninggalan Bosscha, di antaranya piano, lemari dan furnitur. Keluar dari rumah Bosscha kami langsung menuju Jakarta melalui rute yang sama. Akhirnya kami tiba kembali di Jakarta sekitar pukul 5.00 sore. Baru saja tiba di Jakarta kami sudah tidak sabar untuk berkunjung lagi ke Pangalengan😉


Responses

  1. Nice post🙂

  2. nice post. Yg kurang foto,hehe

  3. wooi kemping yuk disini

  4. masukin donk foto-foto pemandangan kota bandung dari pangalengan. coz seumur2 belum pernah ngelihat pemandangan kota bandung dari pegunungan bandung selatan sana. biasanya pemandangan kota bandung yang aku lihat tuh selalu dari bandung utara kayak cihideung, lembang atau dago valley..

  5. ajak dong ke pengalengan n gunung nini


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: